Rabu, 05 Maret 2008

Bandung, Manusia, dan Sampah

Kota sejuk nan indah yang dapat ditempuh hanya dengan 2 jam melalui tol Cipularang dari Jakarta merupakan obyek dari para pecinta belanja dan wisata kuliner. Sebuah kota yang berbentuk seperti cekungan yang konon dulunya merupakan sebuah danau besar dan seiring perjalanan waktu danau itu mengering sehingga dapat ditinggali oleh yang namanya manusia.

Manusia adalah mahkluk yang tidak jauh beda dengan mahkluk Tuhan lainnya, perbedaan manusia dengan mahkluk yang lainnya hanya dalam akal sehingga manusia di beri gelar oleh Sang Pecipta' mahkluk yang paling sempurna'. Namun dalam kenyataannya manusia sering sekali melupakan akal dalam melakukan segala tindakannya.

Sampah merupakan merupakan sesuatu yang telah dipergunakan untuk kebutuhan manusia dan meninggalkan sisa. Sisa tersebut yang biasa disebut dengan sampah. Sampah bukanlah sisa yang tidak berguna tetapi sisa yang belum diberikan ide untuk di pergunakan kembali.

Bandung, manusia dan sampah mempunyai keterkaitan. Bandung tidak menjadi indah lagi dikarenakan terdapat banyak sampah yang tidak terurus. Manusia tidak mempergunakan akalnya utuk memberikan solusi yang tepat tentang bagaimana memberikan ide terhadap sampah tersebut yang di implementasikan menjadi sebuah tindakan yang berguna. Sedangkan sampah adalah barang berharga yang menuntuk kreatifitas dari manusia untuk diubah menjadi sesuatu yang berguna secara nyata.
Keterkaitan diantar ketiganya seringkali menimbulkan banyak ketidakharmonisan sehingga banyak permasalahan yang timbul karena ketiganya. Kita tidak bisa menyalahkan Bandung dan begitu pula kita tidak bisa menyalahkan sampah tetapi kita tidak mempersalahkan manusia, hanya saja kesadaran manusia yang mempunyai akal sehat dan dapat berpikir jernih adalah faktor utama yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyalahkan manusia.
Manusia tidak menyadari bahwa kepedulian manusia terhadap sampah akan menjauhkan manusia dari berbagai macam bahaya dan akan mendatangkan keuntungan demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Dasar manusia!yang dipikirakannya hanyalah keuntungan tanpa mempertimbangkan resiko yang akan di hadapi dari ketidakpeduliannya ini.
Bandung selain dijuluki kota pejuang, Bandung merupakan kota pelajar. Pemimpin bangsa ini pasti pernah merasakan kehidupan di kota Bandung sehingga Bandung dapat dijuluki kota pemimpin. Namun dalam kehidupan nyata julukan tersebut 
hanya dijadikan sebagai simbol untuk menutupi kekurangan.

Berbagai perguruan tinggi di kota bandung tidak bisa menjawab bila ditanya tentang masalah sampah, yang terjadi hanyalah kebisuan. Bagaimana jadinya kota bandung yang merupakan kota pelajar yang menghasilkan pemimpin bangsa ini hanya diam membisu bila ditanya tetang sampah. Ini merupakan masalah bersama sehingga diperlukan suatu ekstra pemikiran untuk dapat memberikan solusi yang terbaik bagi kota Bandung dan Pemikiran kreatif manusia diperlukan sehingga keterikatan Bandung, manusia dan sampah akan terus membuat manusia di cap sebagai manusia.

Tidak ada komentar: