Rabu, 31 Desember 2008

Aku Tidak Akan Lupa Hari Ini...!!!

Hari ini aku tak akan lupa, Tuhan telah menunjukkan KekuasaanNya. Betapa kagetnya diriku ini saat melihat kompor gas di dalam rumahku dalam keadaan menyalah setelah di tinggal kurang lebih sepuluh jam. Ini merupakan kekurangan yang dimiliki oleh manusia yang kadang lalai, menyepelekan hal yang sangat kecil yaitu tidak memeriksa keadaan rumah sebelum berpergian.

Aku sejenak berdiam diri dan mengoreksi diri apakah makna di balik semua ini?. Semakin lama aku berpikir dan semakin dekatlah kepada pengkoreksian diri yang dapat menemukan makna dari semua ini.

Ini di mulai pada saat Sehari sebelumnya ketika aku sudah mempunyai niat baik dalam diri aku untuk mengunjungi nenekku di kampung halamanku, namun karena ada sesuatu hal teknis terkait kendaraan yang aku kendarai, aku mengurungkan niat untuk mengunjungi nenekku. Dan aku selanjutnya menghubungi saudaraku yang sedang menuntut ilmu satu kota bersamaku namun berbeda institusi, ternyata saudarauku yang bertempat tinggal tidak jauh dari tempat tinggal nenekku sedang berada dalam satu kota dengan diriku walaupun hari ini adalah hari libur nasional. Ku suruhlah dia untuk menemuiku di malam hari, kebetulan di kota ini sedang ada acara tahunan selama dua hari berturut-turut yang tepatnya berada di kota tua peninggalan Belanda.

Ku buat janji untuk menemui saudaraku di acara itu. Setelah bertemu aku mengajaknya keliling untuk menikmati suasana kota tua. Walaupun sebenarnya acaranya telah selesai, untuk menutupi kekecewaan saudaraku lalu aku mengajaknya makan malam di daerah sekitar dimana sepanjang jalan itu tersebar Factory Outlet. Kemudian ku ajaklah dia untuk menginap di rumah ku.

Dengan ditemai beberapa batang rokok dan dua gelas kopi, malam itu aku bertukar pikiran dengan saudaraku terkait dengan masa depan kami. Kami berdua merencanakan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, yang untuk mendapatkannya gelarnya saja harus menyelesaikan sebuah tesis sampai dengan disertasi. Kami berencana untuk mewujudkan impian itu. Tetapi karena keterbatasan biaya, kami harus kerja keras untuk mendapatkannya dengan mencari beasiswa. Di sela diskusi yang kami lakukan aku mengatakan kepada dia tentang rencana aku ingin mengunjugi nenek di kampung, setujulah dia dengan rencanaku ini. Kebetulan sekali dia ingin pulang ke kampung juga dan kami memutuskan untuk pulang kampung besok harinya.

Tibalah waktunya untuk mengunjungi nenekku di kampung halamanku. Rencana yang awalnya berangkat pukul delapan pagi dikarenakan kami baru tidur di malamnya pada pukul 4 pagi membuat kami menggeser waktu pergi kami sampai dengan pukul sepuluh pagi. Kami mengawalinya dengan mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh kurang lebih sejauh 100 kilometer klo di hitung-hitung untuk pulang pergi aku telah menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer.

Inilah awal dari sebuah pemaknaan dari kelalaian. Tepat sebelum pergi saudara aku mencari korek api untuk membakar rokoknya, karena tidak ada korek api di rumahku ini, maka aku meminta dia untuk menyalakan melalui kompor gas yang ada di dapur. Aku tidak mengetahui persisnya setelah dia menyalakan kompor, apakah kompor itu sudah dalam keadaan padam atau belum. Tanpa memeriksa seisi ruangan di dalam rumahku kami memutuskan untuk langsung pergi.

Aku selalu tidak biasa bila mengunjungi saudaraku tanpa membawa buah tangan sehingga aku memutuskan untuk membelinya dahulu. Selama di perjalanan kami sangat menikmati pemandangan yang ada di sekitar kami, sampai-sampai kami lupa akan rasa capai selama mengendarai masing-masing kendaraan yang kami miliki.

Sampailah kami di kampung halaman. Aku di ajak untuk mengunjungi saudara-saudaraku untuk sekedar memperikat tali silaturrahim. Kunjunganku ini di akhiri dengan berkunjung ke tempat nenekku.

Nenekku seorang wanita yang selalu setia menemani almarhum kakekku selama berjuang untuk memperoleh kemerdekaan bangsa ini selalu menyambutku dengan hangat, tak ada keinginan yang terlihat dalam diri nenekku ini selain sebuah harapan agar cucu-cucunya dapat meraih kesuksesan untuk membangun bangsa ini. Yang selalu terucap dari wanita yang mulia ini hanya sebuah nasehat agar selalu beribadah kepada Allah S.W.T., jangan sekali-kali kamu melupakanNya sebab hidup itu hanya sementara kehidupan yang kekal bukan di dunia ini adanya dan agar selalu menyisihkan sebagian hartanya untuk beramal walaupun kita dalam keadaan senang dan susah. Itulah nasehat yang selalu ku ingat.

Akhirnya aku mengakhiri kunjungan dari kampungku untuk kembali lagi ke kota tempat dimana aku menuntuk ilmu. Perjalanan kembali ini aku lalui sendiri karena saudaraku tetap tinggal di kampung untuk menghabiskan sisa liburannya.

Kupacu kendaraanku ini agar cepat untuk mencapai rumah. Di tengah perjalanan aku menyempatkan diri untuk sholat maghrib dahulu lalu menikmati udara pegunungan di malam hari sambil memakan makanan ringan. Tak kuduga masalah teknis terjadi lagi terkait dengan kendaraanku ini, untung saja hari belum terlalu malam sehingga aku masih mendapatkan bengkel untuk memperbaikinya.

Rasa cape ditambah dengan udara dingin yang menusuk tulang tak membuat ku berhenti untuk beristirahat terlebih dahulu. Aku langsung memacu kendaraanku agar cepat sampai di rumah.

Setelah ku buka pintu rumahku aku mendengar suara seperti suara gas. Namun awalnya tidak aku hiraukan setelah itu rasa penasaran ku muncul, aku melihat ke dapur tetapi tidak ada apa-apa. Setelah aku teliti lebih lanjut aku menemukan asal dari suara gas itu dan akau menemukan api yang menyala kecil di atas kompor yang terdapat di dapur. Diatas kompor tersebut terdapat sebuah penggorengan beriisikan minyak goreng yang kosong. Inilah yang membuat aku terhentak kaget dan selalu bersyukur kepada Tuhan, ternyata tidak terjadi apa-apa.

Aku memperoleh pelajaran yang sangat berarti hari ini. Tuhan menunjukkan KekuasaanNya. Aku merenung dan terus merengung sampai kepada suatu makna yang mendalam akan hakikat dari Sebuah doa serta Rasa tulus dan ikhlas merupakan penghalang terjadinya malapetaka terhadap diri kita. Rabu 31 Desember 2008 Pukul. 20.15. Aku tidak akan lupa hari ini!!!.

Selasa, 30 Desember 2008

Angkutan Kota

" Kiri, kiri, Kiri 'a ", tak lama kemudian tanpa melihat spion kanan dan kiri supir angkot memberhentikan kendaraannya. Itulah yang terjadi dewasa ini, sebuah sikap yang mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan sekitarnya. Mencari rizki untuk mempertahankan hidup adalah bagian dari amal ibadah namun apabila pencarian akan rezeki tersebut dapat merugikan kepentingan orang lain, apakah itu bisa dikatakan ibadah?.

Dengan alasan mencari duit, mengejar setoran, takut diambil oleh angkot yang lainnya, takut ada polisi dan sebagainya sebagai alasan yang sering kita dengar tapi apakah itu dapat di benarkan?.Tentunya adalah tidak benar. Bukankah rezeki itu Tuhan yang mengaturnya!.
Dari sikap yang seperti ini masyarakat dapat menilai, apakah itu dapat di katagorikan baik atau dapat di katagorikan buruk?memang masyarakat dapat menilainya namun suatu sikap yang buruk dilakukan berkali-kali tanpa adanya kontrol sosial dan tanpa adanya tindakan yang dilakukan sehingga membuat sikap itu menjadi kebiasaan dan dapat dikatakan lumrah, apakah ini dapat di biarkan!

Semua ini tidak terlepas dari peran kepolisian yang telah memberikan izin berupa izin mengemudi kepada supir angkot, seringkali izin tersebut hanya sekedar izin dan untuk mendapatkannya sangatlah mudah tanpa melalui jalur tes tertulis dan praktek, izin sudah dapat diterima yang pastinya. Inilah yang dinamakan jalur khusus yang penuh dengan pungutan didalamnya.

Tidak semua supir angkot merupakan supir resmi dari angkot yang dikendarainya, kebanyakan dari mereka adalah supir tembak (bukan supir resmi). Memang hal tersebut tidak ada pengaturannya, selama supir tersebut menyetorkan sesuai dengan kesepakatan antara pemilik angkot dengan sang supir. Inilah yang jadi permasalahan sehingga sangat sulit untuk mengontrol tingkah laku supir angkot dikarenakan tidak adanya hal pembeda antara keduanya.

Disisi lain Masyarakat sebagai pengguna kendaraan umum sering kali mengabaikan aturan-aturan yang sudah ada, sebagai contoh bila ingin turun dari angkot dengan memberitahukan kepada supir angkot untuk memberhentikan kendaraannya tanpa mempedulikan rambu-rambu yang ada, yang penting dekat dengan tujuannya.

Jikalau kita ingin menyalahkan, siapakah yang akan kita salahkan?Polisikah,?,Supir angkotkah ?, atau masyaratkah?. Tentunya semuanya mempunyai keterkaitan yang sangat jelas. Menyalahkan bukan hal yang tepat saat ini, yang di butuhkan sebuah koreksi dan masukan untuk perbaikan kedepannya.