" Kiri, kiri, Kiri 'a ", tak lama kemudian tanpa melihat spion kanan dan kiri supir angkot memberhentikan kendaraannya. Itulah yang terjadi dewasa ini, sebuah sikap yang mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan sekitarnya. Mencari rizki untuk mempertahankan hidup adalah bagian dari amal ibadah namun apabila pencarian akan rezeki tersebut dapat merugikan kepentingan orang lain, apakah itu bisa dikatakan ibadah?.
Dengan alasan mencari duit, mengejar setoran, takut diambil oleh angkot yang lainnya, takut ada polisi dan sebagainya sebagai alasan yang sering kita dengar tapi apakah itu dapat di benarkan?.Tentunya adalah tidak benar. Bukankah rezeki itu Tuhan yang mengaturnya!.
Dari sikap yang seperti ini masyarakat dapat menilai, apakah itu dapat di katagorikan baik atau dapat di katagorikan buruk?memang masyarakat dapat menilainya namun suatu sikap yang buruk dilakukan berkali-kali tanpa adanya kontrol sosial dan tanpa adanya tindakan yang dilakukan sehingga membuat sikap itu menjadi kebiasaan dan dapat dikatakan lumrah, apakah ini dapat di biarkan!
Semua ini tidak terlepas dari peran kepolisian yang telah memberikan izin berupa izin mengemudi kepada supir angkot, seringkali izin tersebut hanya sekedar izin dan untuk mendapatkannya sangatlah mudah tanpa melalui jalur tes tertulis dan praktek, izin sudah dapat diterima yang pastinya. Inilah yang dinamakan jalur khusus yang penuh dengan pungutan didalamnya.
Tidak semua supir angkot merupakan supir resmi dari angkot yang dikendarainya, kebanyakan dari mereka adalah supir tembak (bukan supir resmi). Memang hal tersebut tidak ada pengaturannya, selama supir tersebut menyetorkan sesuai dengan kesepakatan antara pemilik angkot dengan sang supir. Inilah yang jadi permasalahan sehingga sangat sulit untuk mengontrol tingkah laku supir angkot dikarenakan tidak adanya hal pembeda antara keduanya.
Disisi lain Masyarakat sebagai pengguna kendaraan umum sering kali mengabaikan aturan-aturan yang sudah ada, sebagai contoh bila ingin turun dari angkot dengan memberitahukan kepada supir angkot untuk memberhentikan kendaraannya tanpa mempedulikan rambu-rambu yang ada, yang penting dekat dengan tujuannya.
Jikalau kita ingin menyalahkan, siapakah yang akan kita salahkan?Polisikah,?,Supir angkotkah ?, atau masyaratkah?. Tentunya semuanya mempunyai keterkaitan yang sangat jelas. Menyalahkan bukan hal yang tepat saat ini, yang di butuhkan sebuah koreksi dan masukan untuk perbaikan kedepannya.
Dengan alasan mencari duit, mengejar setoran, takut diambil oleh angkot yang lainnya, takut ada polisi dan sebagainya sebagai alasan yang sering kita dengar tapi apakah itu dapat di benarkan?.Tentunya adalah tidak benar. Bukankah rezeki itu Tuhan yang mengaturnya!.
Dari sikap yang seperti ini masyarakat dapat menilai, apakah itu dapat di katagorikan baik atau dapat di katagorikan buruk?memang masyarakat dapat menilainya namun suatu sikap yang buruk dilakukan berkali-kali tanpa adanya kontrol sosial dan tanpa adanya tindakan yang dilakukan sehingga membuat sikap itu menjadi kebiasaan dan dapat dikatakan lumrah, apakah ini dapat di biarkan!
Semua ini tidak terlepas dari peran kepolisian yang telah memberikan izin berupa izin mengemudi kepada supir angkot, seringkali izin tersebut hanya sekedar izin dan untuk mendapatkannya sangatlah mudah tanpa melalui jalur tes tertulis dan praktek, izin sudah dapat diterima yang pastinya. Inilah yang dinamakan jalur khusus yang penuh dengan pungutan didalamnya.
Tidak semua supir angkot merupakan supir resmi dari angkot yang dikendarainya, kebanyakan dari mereka adalah supir tembak (bukan supir resmi). Memang hal tersebut tidak ada pengaturannya, selama supir tersebut menyetorkan sesuai dengan kesepakatan antara pemilik angkot dengan sang supir. Inilah yang jadi permasalahan sehingga sangat sulit untuk mengontrol tingkah laku supir angkot dikarenakan tidak adanya hal pembeda antara keduanya.
Disisi lain Masyarakat sebagai pengguna kendaraan umum sering kali mengabaikan aturan-aturan yang sudah ada, sebagai contoh bila ingin turun dari angkot dengan memberitahukan kepada supir angkot untuk memberhentikan kendaraannya tanpa mempedulikan rambu-rambu yang ada, yang penting dekat dengan tujuannya.
Jikalau kita ingin menyalahkan, siapakah yang akan kita salahkan?Polisikah,?,Supir angkotkah ?, atau masyaratkah?. Tentunya semuanya mempunyai keterkaitan yang sangat jelas. Menyalahkan bukan hal yang tepat saat ini, yang di butuhkan sebuah koreksi dan masukan untuk perbaikan kedepannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar